Hati-hati Makan Kerang

16 08 2009

kerangKemaren, istri masak kerang hijau. Cukup banyak yang dimasak sehingga menggoda perut untuk mencicipinya. Dari bau masakannya aja udah sedap apalagi pas dimakan. Sesaat setelah matang, masakan kerang istri langsung disantap untuk makan siang. Porsi saya lebih banyak dibanding istri,maklumlah saya termasuk calon papasaurus (papa pemakan segala :D).

Rencana, sore itu kami mo nonton bioskop ‘Merantau’. Tapi di tengah perjalanan, istri saya muntah-muntah. Makanan dari makan siang tadi habis dimuntahkannya. Saya pikir, pada bulan kelima ini sudah selesailah masalah mual-mual untuk ibu hamil. Tetapi kenapa bisa muntah begitu. Akhirnya rencana nonton ‘Merantau’ dibatalkan, kami langsung pulang ke rumah.  Sampai di rumah, perut sendiri jadi mual-mual tapi tidak sampai muntah seperti istri. Istri sudah lemas di tempat tidur. Saya yang jadi kebingungan,bagaimana untuk membuat istri seger lagi. Malamnya, kembali lagi istri saya muntah.  Saya jadi curiga,jangan-jangan kerang itu tidak cocok untuk ibu hamil.

kerangSaya pun bertanya kepada Mbah Google, “Mbah-mbah, apakah kerang itu cocok buat ibu hamil?”. Dan Mbah Google pun menjawab, “Kerang itu sumber nutrisi yang baik untuk ibu hamil karena mengandung protein bermutu baik dan merupakan sumber asam lemak omega 3 serta mengandung lemak jenuh yang rendah”. Saya mengerti sekarang, ternyata kerang itu memang bagus kok buat ibu hamil. “Tetapi kenapa bisa bikin mual-mual begitu Mbah”

Mbah Google mendengus,”Makanya jangan dipotong klo Mbah ngomong, penjelasannya belum selesai. Walaupun kerang bagus buat ibu hamil, namun perlu diperhatikan, kerang juga sering kali tercemar oleh logam berat seperti merkuri. Logam berat ini tak boleh dikonsumsi ibu hamil, karena dapat menyebabkan cacat janin atau penyakit autis. Sayangnya, untuk mengetahui kerang telah tercemar atau belum, tak ada ciri khusus yang dapat membedakannya. Namun begitu, kita dapat mencegah mengon-sumsi kerang yang telah tercemar merkuri, yakni dengan tidak membeli kerang yang berasal dari perairan yang mengandung banyak limbah industri (baik limbah cair maupun limbah yang berasal dari asap pabrik)”.

“Menurut Pak Zainal Arifin, Ph.D., seorang peneliti dari Oseanologi LIPI menjelaskan bahwa pencemaran kerang di Indonesia Timur dibanding dengan pulau Jawa dan sekitarnya mencapai 10 hingga 20 kali lipat. Meski hasil penelitiannya belum tuntas, namun kondisi ini perlu membuat kita hati-hati terutama bagi penggemar kerang-kerangan. Kasus ditolaknya kerang-kerang Indonesia di negara-negara Uni Eropa menunjukkan bahwa kondisi perairan kita cukup memprihatinkan.
Kerang, banyak dihasilkan di daerah sekitar teluk Jakarta, seperti Muara Angke (yang terbesar) dan Cilincing. Kerang hijau (Perna viridis) dan kerang-darah (Anadara granosa) merupakan jenis kerang yang banyak penggemarnya.Namun, untuk ekspor, kali ini Indonesia banyak mendapat ganjalan karena indikasi banyaknya racun di kerang.
Diketahui, kerang hijau lebih dikenal sebagai kerang yang bersifat “vacuum cleaner” karena ia menjaring logam-logam berat seperti : Pb(timbal), kadmium (Cd), maupun tembaga (Cu). Sementara, kerang dara lebih parah lagi. Karena hidup di dalam lumpur, ia bahkan dapat memakan sedimen. Logam-logam berat ini bila masuk ke dalam tubuh “tidak bisa keluar”. Ia akan terpendam di dalamnya. “Logam-logam ini akan menjadi racun di dalam tubuh”.
Aumnus doktor dari Kanada bidang ekotoksikologi ini menjelaskan, racun-racun ini dapat membuat sistem syaraf lemah, IQ turun, dan berpengaruh ke tulang. Yang berbahaya, bila racun tadi dideposit tulang dan mengendap di dalamnya. Karena bisa terjadi salah tangkap, kadmium yang mengendap di sana bisa dianggap kalsium dan diserap tulang.
Menurut Zainal Arifin, penelitiannya ini masih bersifat rahasia karena belum selesai. Namun, ia mengungkap sebagian yang perlu untuk kita ketahui. Dikatakannya, sebenarnya untuk dikonsumsi, kerang-kerang itu harus bebas logam-logam berat dalam jumlah nol (0%). Kalaupun ada ambang
batasnya, biasanya sekitar 0,05. Itu, biasanya diterapkan di negara-negara
maju.
Sementara, di Indonesia, terutama di wilayah Muara Angke memiliki nilai konsentrasi yang cukup tinggi bahkan paling tinggi dibanding daerah-daerah Jakarta lainnya. Dari hasil penelitiannya, angka konsentrasi itu ada yang mencapai angka 1,8 atau hampir 2. Kebanyakan di atas 1 konsentrasinya.
Kondisi ini tentu memprihatinkan kita, dan cukup untuk membuat kita berhati-hati dalam mengonsumsi makanan kerang, terutama ibu hamil karena anak yang dikandung nanti diperkirakan bisa mengidap autisme.”

OK, saya mengerti sekarang. “terima kasih ya Mbah, saya akan hati-hati lagi klo ingin makan  kerang”.

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: