Ini salah satu pengalaman saya dan istri berbelanja di toko besar nan terkenal dengan toko kecil yang tidak terlalu dikenal. Saat itu saya dan istri berbelanja di toko besar nan terkenal yang lagi kasih diskon besar-besaran. Sapa sih yang tidak suka dengan diskon? Saya lihat di beberapa tempat informasi-informasi tentang diskon sampe 60% ada. Tertarik melihat karpet halus saya tertarik untuk membelinya. Beberapa alasan mengapa saya ingin membeli karpet itu adalah karena saya lagi butuh karpet dan tentunya harganya telah dipotong dengan diskon. OK, saya lihat di kertas harganya, tertulis nilai 1 juta sekian dicoret dan di bawahnya tercantum harga setekah diskon menjadi 4oorb sekian. Wow, murah sekali, pikir saya saat itu. Tapi saya pikir-pikir lagi mengenai prioritas kebutuhan saya. Akhirnya dengan sedikit hati yang terganjal, saya tidak jadi membeli karpet itu. Sayang sekali.
Keesok harinya, saya dan istri jalan ke mall lain dan kebetulan ada toko kecil yang menjual karpet halus. Iseng-iseng lihat harga karpet. Ah, ada karpet halus yang saya cari sama seperti yang saya lihat di toko besar nan terkenal kemaren. Bahan dan kualitasnya memang sama. JDENGGG.. LHO, harganya kok sama dengan yang di toko besar nan terkenal itu. Bedanya kalau di toko kecil ini tanpa diskon alias bener-bener harga aslinya. Dibandingkan dengan harga karpet di toko besar nan terkenal yang dipotong diskon 50% dengan kualitas dan bahan yang sama, OH bener-benar tidak ada bedanya. Untung saya tidak jadi beli di toko besar nan terkenal itu kemaren. Yah, walaupun harga sebenarnya tidak ada potongan tapi kalau diakalin kaya gini, nyesek banget kali, perasaan sebagai konsumen dibohongi seperti ini. OK lah, mungkin ini sebagai strategi pemasaran, saya pribadinya tidak bisa menerimanya.
Baru saya tahu, bahwa kebanyakan harga-harga dengan diskon itu ternyata harganya tidak ada perubahan. Hanya saja harganya dinaikkan kemudian dipotong dengan harga diskon menjadi harga aslinya. Dari segi konsumen mungkin terlihat harganya lebih murah karena ada diskon, tetapi dari segi produsen emang ga ada potongan. Jadi tetep untung kan. Kesimpulannya, harga dengan diskon itu hanya akal-akalan saja biar orang tertarik untuk membeli. Dari segi produsen bisa saja menyebut sebagai strategi. Namun dari segi konsumen artinya lain.
Satu pelajaran hidup yang bisa saya petik, “Jangan lihat sesuatu dari besarnya ia atau terkenalnya ia karena belum tentu memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain”. Ah, saya jadi teringat infotainment tentang artis-artis yang memiliki nama besar dan terkenal.
Menurut Ustad H Ahmad Zaky pada acara talk show ‘Mulut Baik di Bulan Baik’ di Restoran Maroush, Hotel Crowne Plaza, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa kemaren, diriwayatkan bahwa Rasul pernah meluruskan penafsiran yang salah dari salah satu sahabat tentang hadist tersebut. Sebenarnya bau mulut orang berpuasa diganti dengan bau minyak kesturi di surga berasal dari hati yang bersih dan hanya mengeluarkan perkataan yang baik saat berpuasa.
giginya. “Aku bekerja untuk kemaslahatan umat. Bolehkah aku berkumur setelah tidur?” tanya sang Hakim pada Rasul. Rasul pun menjawab, “Tanyalah hatimu. Kembalikan semua pada hatimu.” Hadis ini menjelaskan bahwa berkumur/sikat gigi/siwak dikembalikan pada niatnya masing-masing yaitu niat untuk kepentingan yang baik. Tetapi dianjurkan untuk berkumur dan sebagainya dilakukan pada saat sahur. Kenapa demikian, karena dikhawatirkan ada tetesan air yang masuk walaupun tidak disengaja.Oleh karena itu, sebagian ulama berpendapat berkumur,sikat gigi, dan siwak jatuh pada hukum makruh yaitu mengurangi pahala berpuasa.
Satu dari sekian tayangan televisi menjelang bulan Ramadhan (kebanyakan sinetron sih), yang menurut saya banyak memberikan manfaat daripada hiburan semata adalah “Baim Anak Sholeh” atau disingkat BAS. Acara ini masuk kategori sinetron. Dibandingkan sinetron lainnya yang mengandalkan tangisan, kekerasan rumah tangga, pamer kekayaan, percintaan, dan amarah, BAS merupakan satu-satunya pilihan acara yang wajib ditonton sambil menunggu waktu buka puasa apalagi ditonton bersama anak kita. Kisahnya sendiri tidak saling berhubungan antara episode satu dengan episode selanjutnya karena didasarkan pada pemahaman dan hikmah dari sebuah hadist.
Komentar Teman